Muhammadiyah Bangun RS Lapangan Standar WHO, Wujud Nyata Kemanusiaan untuk NTT

Media Share

Muhammadiyahtuban.or.id-Di tengah duka pascagempa yang mengguncang Nusa Tenggara Timur, Muhammadiyah bergerak cepat menghadirkan harapan. Emergency Medical Team (EMT) Muhammadiyah kini tengah menyiapkan instalasi lengkap Rumah Sakit Lapangan berstandar WHO — bukti nyata bahwa solidaritas kemanusiaan tak mengenal jarak.

Sekretaris Lembaga Resiliensi Bencana (LRB) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Arif Nur Cholis, mengungkapkan hal ini pada Ahad (23/8) melalui keterangan tertulis yang diterima reporter Muhammadiyah.or.id.

Arif menegaskan, fasilitas ini jauh dari kesan seadanya. Bukan sekadar tenda darurat, melainkan rumah sakit sesungguhnya mulai dari bangunan, prosedur operasi, hingga personel medisnya berada langsung di bawah supervisi WHO, dengan standar layanan setara EMT Tipe 1 Fixed atau EMT Muhammadiyah Internasional.

Langkah besar ini merupakan puncak dari rangkaian respons cepat yang telah digerakkan Muhammadiyah sejak hari-hari pertama pascagempa, lewat enam unit Emergency Medical Team mobile yang telah lebih dulu terjun ke lapangan: EMT Klinik Muhammadiyah Ende (Dampek, Manggarai Timur), EMT RS PKU Muhammadiyah Bima, Klinik ‘Aisyiyah Kupang, EMT Unismuh Makassar, EMT RS Muhammadiyah Lamongan, serta EMT Klinik Muhammadiyah Ende dan Klinik UNIMOF.

Setelah berkoordinasi erat dengan Ketua Satuan Tugas Kementerian Kesehatan untuk Gempa NTT serta Camat Lamba Leda Utara, Manggarai Timur, Muhammadiyah pun memberangkatkan pasukan intinya: EMT Muhammadiyah Internasional, lengkap dengan kekuatan penuh untuk mendirikan rumah sakit lapangan.

“EMT Muhammadiyah membawa 70 orang tenaga kesehatan dan tenaga medis, 15 tenda, fasilitas penjernih air, ruang rawat inap, farmasi, serta peralatan yang diangkut menggunakan truk, 2 mobil operasional, 1 mobil ambulans, dan 1 mobil 4×4,” tutur Arif.

Rumah Sakit Lapangan ini resmi beroperasi sejak Senin, 24 Agustus 2026, dan akan mengabdi selama 30 hari ke depan untuk para penyintas. Kesiapan luar biasa ini adalah buah dari pengalaman panjang Muhammadiyah membangun EMT berstandar nasional dan internasional yang tangguh dan berbasis resiliensi.

Arif menutup dengan menegaskan, kekuatan respons ini tidak lahir dari satu pihak saja, melainkan hasil sinergi jaringan Amal Usaha Muhammadiyah, kolaborasi lintas program, serta kepemimpinan solid dari Pimpinan Pusat hingga ranting, membuktikan bahwa gerakan ini benar-benar hadir dari akar rumput untuk kemanusiaan.

Penulis: Samson Thohari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *