Beriman kepada Takdir Bukan Alasan Berhenti Berikhtiar

Media Share

Muhammadiyahtuban.or.id-Beriman kepada takdir Allah bukan berarti manusia boleh berhenti berusaha dan menyerahkan seluruh persoalan hidup tanpa ikhtiar. Justru keyakinan terhadap takdir harus mendorong seorang Muslim untuk terus beramal, berusaha, bersabar, dan menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah SWT.

Pesan tersebut disampaikan Ustadz H. Saiun Ngalim, Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Tuban, dalam siaran kajian “Mutiara Pagi” di Radio Republik Indonesia (RRI) Tuban, Senin (7/9/2026) pagi menjelang pukul 06.00 WIB.
Menurutnya, takdir merupakan bagian dari rukun iman yang wajib diyakini. Namun, manusia tidak mengetahui apa yang telah ditetapkan Allah untuk dirinya. Karena itu, rahasia takdir seharusnya tidak membuat seseorang pasif, melainkan tetap berikhtiar dan memperbanyak amal saleh.

“Allah menilai proses, bukan sekadar hasil akhir. Ada orang yang sudah berusaha sungguh-sungguh tetapi belum menjadi kaya. Keikhlasannya dalam berusaha tetap bernilai di sisi Allah. Sebaliknya, ada orang yang mendapatkan kekayaan melalui korupsi. Hasilnya besar, tetapi prosesnya salah,” jelasnya.

Takdir Tidak Boleh Menjadi Alasan untuk Bermalas-malasan

Ustadz Saiun menjelaskan, manusia berada dalam pusaran ketetapan Allah, tetapi tetap diberikan kesempatan untuk memilih dan berusaha. Karena takdir merupakan perkara gaib, manusia tidak boleh menggunakan alasan “sudah takdir” untuk membenarkan kemalasan atau perbuatan dosa.

Ia mengibaratkan kehidupan manusia seperti perlombaan lari. Menurutnya, yang menentukan keberuntungan bukan kondisi seseorang di tengah perjalanan, tetapi bagaimana ia mencapai garis finis.

“Perjalanan hidup ibarat lomba lari. Yang menentukan bukan kecepatan di tengah jalan, melainkan garis finis. Karena itu, jangan terperdaya dengan kondisi kita sekarang. Teruslah memohon kepada Allah agar diberikan husnul khatimah, akhir kehidupan yang baik,” tuturnya.

Ia mengingatkan, seseorang yang hari ini terlihat baik belum tentu mengetahui bagaimana akhir kehidupannya. Sebaliknya, seseorang yang pernah berada dalam kondisi buruk masih memiliki kesempatan untuk bertobat dan memperbaiki diri selama ajal belum tiba. Karena itu, menurutnya, seorang Muslim harus menjaga amal dan tidak menunda kebaikan.

“Jangan menunda kebaikan dengan alasan masih muda. Tidak ada yang mengetahui kapan ajal datang. Teruslah berdoa dan berikhtiar karena hidup ini sementara,” pesannya.

Rezeki dan Ajal Berada dalam Ketetapan Allah

Dalam kajian tersebut, Ustadz Saiun juga mengingatkan bahwa manusia tidak perlu berlebihan dalam mencemaskan rezeki maupun ajal. Keduanya berada dalam pengetahuan dan ketetapan Allah.

Ia mengutip hadis Nabi Muhammad ﷺ yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim tentang proses penciptaan manusia. Dalam hadis tersebut dijelaskan bahwa ketika manusia masih berada dalam kandungan, malaikat diperintahkan untuk mencatat beberapa perkara, antara lain rezeki, ajal, amal, serta keadaan akhir kehidupannya.

Hadis tersebut, menurutnya, mengajarkan bahwa kehidupan manusia tidak berjalan tanpa arah. Namun, karena manusia tidak mengetahui ketetapan tersebut, kewajibannya adalah menjalani kehidupan dengan ikhtiar dan ketaatan.
“Rezeki dan ajal sudah ditetapkan. Tetapi karena kita tidak mengetahui kapan rezeki dan ajal itu datang, maka kita tetap wajib berusaha,” katanya.

Musibah Telah Tertulis, tetapi Ikhtiar Tetap Wajib

Ustadz Saiun kemudian mengutip firman Allah dalam QS Al-Hadid ayat 22:
«“Tidak ada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab sebelum Kami menciptakannya.”»

Ayat tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa berbagai peristiwa kehidupan berada dalam pengetahuan Allah. Namun, keyakinan tersebut tidak berarti manusia dilarang mencari jalan keluar.

Ketika sakit, manusia tetap harus berobat. Ketika mengalami kesulitan, tetap harus mencari solusi. Ketika menghadapi musibah, manusia diperintahkan bersabar dan memohon pertolongan Allah.

Hal itu diperkuat dengan firman Allah dalam QS At-Taghabun ayat 11:
«“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah.”»
Menurut Ustadz Saiun, justru sikap seseorang ketika menghadapi keadaan yang sama dapat menunjukkan kualitas imannya. Orang beriman akan berusaha menerima musibah sebagai ujian, mengambil pelajaran, dan kembali bergantung kepada Allah.

Mengingat Asal Penciptaan agar Tidak Sombong

Dalam kajian tersebut, ia juga mengajak pendengar merenungkan proses penciptaan manusia sebagaimana diterangkan dalam Al-Qur’an.
Allah berfirman dalam QS Al-Mu’minun ayat 14:
«“Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging…”»

Proses tersebut menunjukkan kekuasaan Allah sekaligus mengingatkan manusia agar tidak sombong. Manusia yang kini memiliki kemampuan, kedudukan dan kekayaan pada awalnya hanyalah makhluk yang diciptakan melalui tahapan yang telah ditentukan Allah.

Dalam QS Al-Hajj ayat 5, Allah juga menjelaskan proses penciptaan manusia sekaligus memberikan gambaran tentang kebangkitan setelah kematian.

Ustadz Saiun mengibaratkan bumi yang kering kemudian kembali hidup setelah mendapatkan hujan. Menurutnya, menghidupkan kembali manusia setelah kematian bukanlah sesuatu yang sulit bagi Allah.

“Allah yang mampu menciptakan manusia dari sesuatu yang sebelumnya tidak ada, tentu mampu menghidupkan kembali manusia setelah kematiannya,” jelasnya.

Tauhid, Berbakti kepada Orang Tua dan Bersyukur

Dalam pembahasannya, Ustadz Saiun juga mengingatkan pentingnya hubungan antara keimanan kepada Allah dengan bakti kepada kedua orang tua.
Ia mengutip QS Luqman ayat 14, yang memerintahkan manusia berbuat baik kepada kedua orang tua, khususnya mengingat perjuangan seorang ibu yang mengandung dan menyusui anaknya.

Menurutnya, manusia perlu mengingat dari mana dirinya berasal agar tidak terjebak dalam kesombongan dan ketakutan yang berlebihan terhadap kehidupan dunia.
Allah juga berfirman dalam QS Al-Mulk ayat 2:

«“Dialah yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik amalnya.”»

Ayat tersebut menjadi salah satu penekanan penting dalam kajian. Kehidupan bukan sekadar tentang siapa yang memiliki harta paling banyak, jabatan paling tinggi atau keberhasilan yang paling terlihat, tetapi tentang siapa yang mampu menjalani hidup dengan amal terbaik.

Sukses Bukan Sekadar Banyaknya Hasil

Menjawab pertanyaan pendengar tentang batas antara usaha dan takdir, Ustadz Saiun memberikan penjelasan yang cukup tajam.

Menurutnya, manusia sering terjebak pada cara pandang yang keliru. Ketika gagal, seseorang mudah mengatakan, “Ini sudah takdir.” Namun ketika berhasil, ia justru berkata, “Ini karena kerja keras saya.”

Padahal, keberhasilan maupun kegagalan tetap berada dalam kehendak Allah, sementara manusia berkewajiban menjalani proses dengan sungguh-sungguh.

“Ukuran sukses bukan tampilan luar, melainkan ridha Allah. Tetaplah beramal saleh. Kesuksesan sejati adalah ketika kita bertemu Allah dalam keadaan taat,” tegasnya.
Karena itu, beriman kepada takdir seharusnya melahirkan ketenangan, bukan keputusasaan; melahirkan tawakal, bukan kemalasan; serta melahirkan keberanian untuk terus berbuat baik.

Pada akhirnya, manusia tidak mengetahui bagaimana garis finis kehidupannya. Yang dapat dilakukan adalah terus memperbaiki diri, menjaga shalat, memperbanyak ibadah, berbuat baik kepada sesama, bersyukur atas rezeki, serta memohon kepada Allah agar diberi akhir kehidupan yang baik.

“Jangan merasa aman dengan keadaan kita hari ini. Teruslah berusaha istiqamah dan mohon kepada Allah agar kita mendapatkan husnul khatimah,” pesan Ustadz H. Saiun Ngalim mengakhiri kajiannya.

Penulis: FIRNAS MUTTAQIN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *