Muhammadiyahtuban.or.id-Di era media sosial, satu unggahan dapat menyebar ke ribuan bahkan jutaan orang dalam hitungan menit. Karena itu, setiap tulisan, komentar, maupun unggahan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Islam mengajarkan bahwa menjaga kehormatan seorang muslim adalah kewajiban. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa darah, harta, dan kehormatan seorang muslim adalah sesuatu yang haram untuk dilanggar.
Karena itu, siapa pun yang sengaja menyebarkan fitnah, tuduhan tanpa bukti, hoaks, atau narasi yang bertujuan menjatuhkan nama baik orang lain harus menyadari bahwa perbuatannya bukan sekadar pelanggaran etika, tetapi juga dosa di sisi Allah.
Al-Qur’an mengingatkan:
«”Wahai orang-orang yang beriman! Jika datang kepada kalian seorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya…” (QS. Al-Hujurat: 6)»
Allah juga berfirman:
«”Janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain…” (QS. Al-Hujurat: 12)»
Bahkan, fitnah yang menyerang kehormatan seseorang dapat meninggalkan luka yang panjang. Sekali nama baik seseorang rusak di ruang publik, tidak mudah mengembalikannya, meskipun tuduhan itu akhirnya terbukti salah.
Berbeda pendapat boleh. Mengkritik juga boleh, bahkan terkadang diperlukan. Namun Islam mengajarkan agar kritik dilakukan dengan adil, berdasarkan fakta, menggunakan bahasa yang baik, dan tidak berubah menjadi fitnah, ghibah, atau ujaran kebencian.
Bagi mereka yang menjadikan media sosial sebagai ladang mencari keuntungan dengan menyebarkan kebencian atau menyerang kehormatan orang lain, hendaknya merenungkan kembali pekerjaannya. Jangan sampai keuntungan yang bersifat sementara justru menjadi sebab beratnya hisab di akhirat.
Setiap huruf yang kita tulis, setiap komentar yang kita unggah, dan setiap fitnah yang kita sebarkan akan dicatat oleh Allah. Maka sebelum menekan tombol “kirim”, tanyakan pada diri sendiri: Apakah ini benar? Apakah ini adil? Apakah Allah ridha jika aku menyebarkannya?
Menjaga kehormatan orang lain pada hakikatnya adalah menjaga kehormatan diri sendiri. Sebab seorang mukmin sejati tidak hanya berhati-hati dalam berbicara, tetapi juga berhati-hati dalam mengetik.
Penuis: Samson Thohari






