Muhammadiyahtuban.or.id-Lebih dari satu abad yang lalu, KH. Ahmad Dahlan menghadirkan gagasan pembaruan Islam yang pada masanya tidak selalu mudah diterima. Banyak pandangannya dianggap asing, berbeda dari kebiasaan, bahkan menuai penolakan.
Namun sejarah menunjukkan bahwa tidak sedikit gagasan yang dahulu diperdebatkan justru kemudian menjadi kebutuhan masyarakat. Apa yang awalnya dianggap terlalu maju, lambat laun dipahami sebagai solusi.
Sejak berdiri, Muhammadiyah memang tidak dibangun untuk mengikuti selera zaman atau mengejar popularitas. Muhammadiyah berusaha menghadirkan ajaran Islam yang bersumber kepada Al-Qur’an dan Sunnah dengan pendekatan yang rasional, ilmiah, dan berkemajuan. Ketika masyarakat terus berubah, nilai-nilai tersebut justru semakin menemukan relevansinya.
Tidak Membebani Keluarga yang Berduka
Belakangan ini media sosial ramai membahas tradisi tahlilan yang dinilai dapat menjadi beban bagi keluarga yang sedang berduka, baik dari sisi biaya maupun persiapan.
Jauh sebelum perdebatan itu muncul, Muhammadiyah telah mengajarkan bahwa keluarga yang tertimpa musibah seharusnya dibantu dan diringankan bebannya, bukan justru dibebani dengan berbagai kewajiban sosial. Prinsip ini sejalan dengan tuntunan Nabi Muhammad ﷺ untuk menghadirkan kepedulian kepada keluarga yang sedang berduka.
KHGT Semakin Diterima Generasi Muda
Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) merupakan salah satu gagasan Muhammadiyah untuk mewujudkan kesatuan kalender Islam sehingga perbedaan awal Ramadan, Idulfitri, dan Iduladha dapat diminimalkan.
Hasil Survei PSKP UAD pada Maret 2026 menunjukkan bahwa 82,9 persen generasi muda berusia 17–40 tahun mendukung penerapan KHGT. Hal ini menunjukkan bahwa gagasan yang dahulu dianggap terlalu visioner kini semakin diterima sebagai kebutuhan umat Islam di era global.
Tidak Ada Kultus Individu
Muhammadiyah menghormati para tokohnya karena ilmu, akhlak, dan keteladanan, bukan untuk dikultuskan.
Budaya musyawarah, kolektivitas, dan regenerasi telah menjadi ciri organisasi sejak awal. Pergantian kepemimpinan berjalan secara teratur sehingga organisasi tidak bergantung pada satu figur tertentu.
Agama Bukan Komoditas
Muhammadiyah mendorong umat Islam untuk menjadi pribadi yang mandiri secara ekonomi dan aktif dalam dunia usaha.
Namun, agama tidak dijadikan komoditas pemasaran. Muhammadiyah tidak mengajarkan klaim-klaim keberkahan khusus pada suatu produk demi kepentingan bisnis. Kejujuran, kualitas, dan etika tetap menjadi fondasi utama dalam bermuamalah.
Menolak Mitos, Mengedepankan Dalil
Muhammadiyah mengajak umat meninggalkan takhayul, khurafat, dan berbagai praktik yang tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam.
Setiap keyakinan dan amalan didasarkan pada Al-Qur’an, Sunnah yang sahih, serta penggunaan akal yang sehat. Pendekatan ini menjadikan Islam tampil sebagai agama yang logis dan memberikan ketenangan bagi umat.
Islam yang Rasional dan Berkemajuan
Sejak awal berdirinya, Muhammadiyah telah mengembangkan pendidikan modern, pelayanan kesehatan, kegiatan sosial, serta mendorong kemajuan ilmu pengetahuan melalui semangat tajdid atau pembaruan.
Karena itu, banyak gagasan Muhammadiyah yang kini terasa semakin sesuai dengan tantangan zaman. Bukan karena Muhammadiyah mengikuti tren, melainkan karena nilai-nilai Islam yang diperjuangkannya memang bersifat universal dan mampu menjawab kebutuhan setiap generasi.
Sejarah Terus Berulang
Sejarah mengajarkan bahwa banyak gagasan besar pada awalnya ditolak karena dianggap berbeda. Namun seiring berjalannya waktu, masyarakat mulai melihat manfaat dan relevansinya.
Muhammadiyah tidak berusaha mengejar popularitas ataupun mengikuti arus sesaat. Yang terus diupayakan adalah menghadirkan Islam yang murni, rasional, berkemajuan, serta membawa kemaslahatan bagi umat dan bangsa.
Sebab boleh jadi, apa yang hari ini dipandang asing, esok justru menjadi jawaban bagi persoalan zaman.
Penulis: Samson Thohari






