Sebagai Muslim, Haruskah Kita Mendukung Negara Muslim di Piala Dunia 2026?

Media Share

Jawaban Singkatnya: Tidak Harus

Tidak ada dalil yang mewajibkan seorang Muslim mendukung negara Muslim tertentu dalam olahraga.

Beberapa Perspektif

Yang mendukung “dukung negara Muslim”

  • Rasa ukhuwah Islamiyah — solidaritas sesama Muslim
  • Momen kebangkitan representasi Muslim di panggung dunia
  • Kebanggaan melihat pemain Muslim berprestasi

Yang tidak setuju

  • Sepak bola adalah urusan olahraga, bukan agama
  • Nasionalisme terhadap negara sendiri lebih wajar
  • Kualitas tim lebih relevan dari identitas agama
  • Beberapa negara “Muslim” justru diisi pemain non-Muslim Yang Perlu Diingat

Piala Dunia 2026 digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko pertama kali dengan 48 tim. Negara-negara Muslim yang lolos seperti Maroko, Arab Saudi, dan Senegal bermain sebagai tim nasional, bukan representasi Islam.

Menariknya, justru di sinilah letak paradoksnya.

Ousmane Dembélé membela Prancis , negara non-Muslim, namun ia adalah seorang Muslim. Begitu pula Lamine Yamal, bintang muda Barcelona yang membela Spanyol, memiliki darah keturunan Muslim dari ayahnya yang berasal dari Maroko.

Sebaliknya, tidak sedikit pemain di tim-tim “negara Muslim” yang justru bukan beragama Islam.

Ini membuktikan bahwa bendera di dada pemain tidak selalu mencerminkan identitas agamanya. Mendukung tim hanya berdasarkan label negara Muslim bisa jadi kurang tepat sasaran, dibanding mendukung pemain Muslim secara personal, di mana pun mereka bermain.

Maka pertanyaannya bukan sekadar “negaranya Muslim atau tidak?” tapi “siapa pemainnya, dan bagaimana kita memaknai dukungan itu?”

Mendukung siapa pun, baik karena ukhuwah, gaya bermain, atau sekadar suka, itu pilihan personal yang sah. Yang penting tidak sampai fanatik berlebihan.

Sepak bola adalah olahraga, bukan medan perang agama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *