Saat Layar Menggeser Hidangan: Merajut Kembali Kehangatan Keluarga Menjelang HARGANAS 2026

Media Share

PENULIS: Mohammad Rizky Akbar Firmansyah

BIOGRAFI: Mahasiswa Program Studi Hukum Keluarga Islam, Fakultas Studi Islam dan Psikologi, Universitas Muhammadiyah Surabaya.

Di tengah masifnya arus digitalisasi, kita kerap terjebak dalam ironi yang menggelisahkan: merasa kesepian justru ketika dikelilingi banyak orang, tetapi merasa sangat terhubung saat menyendiri menatap layar. Salah satu ruang paling intim yang perlahan kehilangan kesakralannya akibat fenomena ini adalah meja makan. Tempat yang dahulu menjadi pusat interaksi dan kehangatan keluarga, kini perlahan berubah menjadi ruang sunyi, tempat setiap anggota keluarga sibuk dengan gawainya masing-masing.

Momentum Hari Keluarga Nasional (HARGANAS) semestinya menjadi pengingat bagi kita untuk kembali merajut komunikasi yang mulai renggang. Namun, kenyataannya suara denting alat makan kini sering tenggelam oleh bunyi notifikasi ponsel. Obrolan di grup WhatsApp terasa lebih menarik dibandingkan percakapan hangat bersama keluarga di meja makan.

Mengapa Realitas Virtual Lebih Memikat?

Ada beberapa faktor psikologis dan sosial yang membuat interaksi di layar terasa lebih menggoda dibandingkan komunikasi tatap muka bersama keluarga.

Candu Dopamin Instan
Grup WhatsApp menghadirkan aliran informasi tanpa henti, mulai dari gosip, humor, hingga validasi instan melalui balasan dan reaksi. Sebaliknya, percakapan di meja makan sering dianggap berjalan lebih lambat dan kurang menarik.

Ilusi Kedekatan (Phubbing)
Kita merasa hadir di berbagai lingkaran sosial, grup pekerjaan, alumni, maupun komunitas—padahal secara fisik sedang mengabaikan orang-orang terdekat di sekitar kita. Fenomena mengabaikan lawan bicara demi ponsel ini dikenal sebagai phubbing.

Pelarian Sosial (Escapism)
Bagi sebagian orang, dunia maya menjadi ruang pelarian untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan sensitif di lingkungan keluarga, seperti urusan jodoh, keturunan, atau pencapaian hidup yang kerap memunculkan tekanan psikologis.

Potret Nyata: Pudarnya Kehangatan di Balik Layar

Fenomena ini bukan sekadar teori, tetapi telah menjadi pemandangan yang akrab di sekitar kita.

  1. Sunyi di Tengah Riuh Restoran
    Kita sering melihat sebuah keluarga duduk bersama di restoran, tetapi nyaris tanpa percakapan. Ayah sibuk memantau grup kantor, ibu tenggelam dalam grup arisan, sementara anak-anak larut dalam media sosial. Ketika makanan datang, mereka menyantapnya sambil sesekali menatap layar, lalu pulang. Mereka datang bersama, tetapi hati mereka saling berjauhan.
  2. Kekecewaan di Momen Kepulangan
    Sebuah kisah yang sempat viral di media sosial menceritakan seorang anak yang pulang ke rumah untuk melepas rindu. Namun suasana makan malam justru terasa canggung karena sang ibu terus tertawa membaca pesan di grup WhatsApp keluarga besar, sementara ayah sibuk berdiskusi politik di grupnya. Kehadiran fisik sang anak seolah kalah penting dibanding interaksi digital orang tuanya.
  3. Rumah yang Terfragmentasi
    Pada kondisi yang lebih ekstrem, meja makan benar-benar kehilangan fungsinya. Setiap anggota keluarga memilih membawa makanan ke kamar masing-masing. Ironisnya, komunikasi antarpenghuni rumah, bahkan untuk hal sederhana, dilakukan melalui pesan di grup WhatsApp keluarga. Meja makan akhirnya hanya menjadi sebuah perabot tanpa makna.

Menghidupkan Kembali Jiwa Meja Makan

Jika dunia digital menawarkan kecepatan, maka meja makan menawarkan kedalaman hubungan. Kehangatan, perhatian, dan ikatan emosional yang tulus tidak akan pernah bisa digantikan oleh deretan emoji di layar.

Dalam momentum Hari Keluarga Nasional, sudah saatnya kita membuat komitmen sederhana untuk menghidupkan kembali ruang makan sebagai ruang komunikasi keluarga.

Pertama, lakukan digital detox saat makan bersama. Sepakati bahwa semua ponsel disimpan di tempat lain selama waktu makan berlangsung. Agar lebih menyenangkan, siapa pun yang pertama kali menyentuh ponselnya harus bersedia mencuci piring setelah makan.

Kedua, ubah pola komunikasi di meja makan. Hindari pertanyaan yang terkesan menginterogasi atau menghakimi. Sebaliknya, gunakan pertanyaan yang mengundang cerita, seperti, “Apa hal paling menyenangkan yang kamu alami hari ini?” Pertanyaan sederhana semacam ini mampu membuka percakapan yang lebih hangat dan alami.

Grup WhatsApp mungkin dipenuhi ratusan pesan setiap hari. Namun ketika hidup menghadirkan kesulitan yang nyata, orang-orang yang duduk bersama kita di sekeliling meja makanlah yang akan pertama kali mengulurkan tangan, bukan sekadar foto profil di layar ponsel.

Menjelang HARGANAS 2026, mari kita kembalikan keceriaan di meja makan. Sebab, kehangatan sebuah keluarga tidak akan pernah bisa diunduh dari aplikasi apa pun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *