Oleh: Fathan Faris Saputro, M.Pd.
(Koordinator Divisi Pustaka dan Informasi MPID PDM Lamongan)
Setiap manusia hidup di tengah limpahan nikmat yang tidak pernah berhenti mengalir. Udara yang dihirup, tubuh yang sehat, keluarga yang menemani, hingga kesempatan untuk beribadah merupakan anugerah yang sering kali hadir tanpa diminta. Namun, ada satu kenyataan yang kerap luput disadari, yakni nikmat yang terus-menerus dirasakan perlahan berubah menjadi sesuatu yang dianggap biasa. Ketika nikmat telah menjadi kebiasaan, rasa syukur pun memudar dan manusia mulai lupa kepada Sang Pemberi nikmat.
Salah satu kelemahan manusia adalah mudah terbiasa dengan sesuatu yang pada awalnya sangat berharga. Ketika memperoleh rezeki baru, seseorang akan merasa sangat bahagia, tetapi setelah beberapa waktu kebahagiaan itu mulai berkurang karena dianggap sebagai hal yang lumrah. Rumah yang dahulu menjadi impian akhirnya hanya dipandang sebagai tempat tinggal biasa. Kendaraan yang dulu disyukuri berubah menjadi benda yang bahkan sering dikeluhkan karena tidak lagi memenuhi keinginan yang terus bertambah.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa manusia lebih mudah mengingat kekurangan daripada mensyukuri kelebihan. Mata lebih cepat menangkap apa yang belum dimiliki dibandingkan menghitung nikmat yang sudah ada. Padahal, setiap hari Allah Swt. senantiasa melimpahkan karunia yang tidak pernah berhenti kepada hamba-Nya. Kesadaran inilah yang seharusnya menjadi dasar lahirnya rasa syukur dalam kehidupan.
Membahas nikmat yang Allah Swt. berikan sejatinya sama dengan membahas sesuatu yang tidak akan pernah selesai. Allah senantiasa mencurahkan karunia kepada seluruh hamba-Nya tanpa henti. Karena begitu banyaknya nikmat yang diberikan, manusia tidak akan pernah mampu menghitung jumlah maupun bentuknya secara sempurna. Tugas manusia hanyalah menerima, memanfaatkannya untuk kebaikan, mensyukurinya, dan tidak mengingkarinya.
Allah Swt. berfirman:
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ
Artinya: “Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nahl: 18).
Ayat tersebut menegaskan bahwa keterbatasan manusia bukan hanya dalam menghitung jumlah nikmat, melainkan juga dalam memahami keluasan maknanya. Banyak nikmat yang dirasakan setiap hari tanpa pernah disadari keberadaannya. Justru karena hadir terus-menerus, manusia menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar. Di sinilah letak ujian syukur yang sesungguhnya.
Imam Fakhruddin ar-Razi dalam Tafsîr Mafâtîhul Ghaib menjelaskan bahwa seluruh manfaat yang dinikmati manusia merupakan nikmat Allah. Segala sesuatu yang mendatangkan kenyamanan, menghindarkan manusia dari keburukan, atau menjadi sarana menuju ketaatan termasuk bagian dari nikmat-Nya. Bahkan, setiap media yang mengantarkan seseorang kepada manfaat juga merupakan nikmat yang wajib disyukuri. Oleh karena itu, Imam ar-Razi menegaskan bahwa seluruh ciptaan Allah pada hakikatnya adalah nikmat bagi hamba-hamba-Nya.
Pandangan tersebut mengajarkan bahwa nikmat tidak selalu berbentuk harta atau materi. Kemampuan berpikir dengan jernih, hati yang tenteram, kesempatan menuntut ilmu, teman yang saleh, hingga kemampuan membedakan antara yang benar dan yang salah merupakan nikmat yang nilainya jauh lebih besar daripada kekayaan dunia. Sayangnya, karena semua itu hadir setiap hari, manusia sering kali tidak lagi menyadarinya. Nikmat yang terus hadir akhirnya berubah menjadi sesuatu yang dianggap biasa.
Syekh al-Khazin menjelaskan bahwa nikmat Allah memiliki banyak jenis. Ada nikmat dunia berupa kesehatan, rezeki, keamanan, dan keluarga, serta nikmat agama berupa Islam, iman, dan kesempatan beribadah. Ada pula nikmat yang tampak secara kasatmata dan nikmat batin yang tidak terlihat oleh mata. Masing-masing masih memiliki cabang yang begitu banyak sehingga mustahil dihitung secara rinci oleh manusia.
Cobalah memperhatikan tubuh manusia yang bekerja tanpa henti. Mata dapat melihat, telinga dapat mendengar, lidah mampu mengecap rasa, jantung berdetak tanpa diperintah, dan paru-paru terus bekerja sepanjang hidup. Seluruh organ tersebut bekerja secara sempurna tanpa manusia memahami bagaimana Allah mengaturnya. Baru ketika salah satu fungsi tubuh terganggu, seseorang menyadari betapa berharganya nikmat yang selama ini dianggap biasa.
Hal yang sama juga terjadi pada nikmat waktu. Allah memberikan dua puluh empat jam yang sama kepada setiap manusia setiap harinya. Namun, banyak orang menganggap waktu sebagai sesuatu yang tidak bernilai karena selalu tersedia. Ketika usia mulai menua dan kesempatan semakin sempit, barulah muncul penyesalan atas waktu yang dahulu disia-siakan.
Syekh Nawawi al-Bantani memberikan penjelasan menarik mengenai Surah An-Nahl ayat 18. Menurut beliau, manusia bukan sama sekali tidak dapat menghitung nikmat Allah, melainkan tidak mampu menghitungnya secara sempurna. Sebab, manusia hanya mengetahui sebagian kecil dari nikmat yang Allah berikan, sedangkan sebagian besar lainnya berada di luar jangkauan pengetahuan manusia. Keterbatasan akal inilah yang menyebabkan rasa syukur manusia juga sering kali tidak sempurna.
Contoh yang sangat dekat dengan kehidupan adalah ketika seseorang sedang sakit. Pada saat itu, ia hanya berharap agar penyakitnya segera hilang tanpa mengetahui bagaimana mekanisme penyembuhan yang terjadi di dalam tubuhnya. Allah mengatur setiap sel, jaringan, dan organ dengan ilmu-Nya yang sempurna hingga akhirnya kesehatan kembali pulih. Namun, setelah sembuh, tidak sedikit orang yang hanya berkata bahwa dirinya telah sehat tanpa merenungkan betapa besar kasih sayang Allah yang baru saja diterimanya.
Begitulah sifat manusia ketika nikmat berubah menjadi rutinitas. Udara yang segar baru terasa berharga ketika seseorang mengalami sesak napas. Air bersih baru terasa istimewa ketika terjadi kekeringan. Kehadiran orang tua, pasangan, atau sahabat baru benar-benar disadari nilainya ketika mereka telah tiada atau berjauhan.
Allah Swt. juga memerintahkan manusia untuk senantiasa mengingat dan bersyukur kepada-Nya. Dalam firman-Nya disebutkan:
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ
Artinya: “Maka ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengingatmu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 152).
Sayyid Muhammad Ali Thanthawi menjelaskan bahwa ketidakmampuan manusia menghitung seluruh nikmat bukanlah alasan untuk meninggalkan kewajiban bersyukur. Justru manusia diperintahkan untuk bersyukur semampunya atas setiap nikmat yang disadari. Kesungguhan dalam beribadah dan keikhlasan dalam menaati Allah merupakan bentuk syukur yang paling utama.
Sementara itu, Syekh Nawawi al-Bantani menegaskan bahwa syukur hendaknya dilakukan atas seluruh nikmat Allah, baik yang disadari secara terperinci maupun yang diketahui secara umum. Apabila masih ada nikmat yang luput dari rasa syukur karena keterbatasan manusia, maka Allah Maha Pengampun atas kekurangan tersebut.
Berbeda dengan dua ulama sebelumnya, Syekh Abu Muhammad al-Baghawi lebih menekankan aspek praktik daripada sekadar ungkapan lisan. Menurut beliau, syukur yang sejati diwujudkan melalui ketaatan kepada Allah dan menjauhi kemaksiatan. Orang yang menggunakan nikmat untuk mendekat kepada Allah berarti telah mensyukurinya. Sebaliknya, orang yang memakai nikmat sebagai sarana bermaksiat sejatinya sedang mengingkari karunia tersebut.
Merawat Kesadaran agar Syukur Tidak Memudar
Syukur bukanlah perasaan yang hadir sekali lalu menetap selamanya. Ia harus dirawat melalui kebiasaan merenung, mengingat asal setiap nikmat, dan menyadari bahwa semua yang dimiliki hanyalah titipan Allah Swt. Semakin sering seseorang menghadirkan kesadaran tersebut, semakin kecil kemungkinan nikmat berubah menjadi sesuatu yang dianggap biasa.
Di era modern, tantangan untuk bersyukur justru semakin besar. Kemudahan teknologi membuat manusia cepat terbiasa dengan berbagai fasilitas yang dahulu sulit diperoleh. Telepon pintar, kendaraan, internet, hingga berbagai layanan instan perlahan dianggap sebagai kebutuhan mutlak sehingga ketika sedikit mengalami gangguan, keluhan lebih cepat keluar daripada rasa syukur.
Media sosial turut memperkuat kecenderungan manusia untuk melupakan nikmat yang dimiliki. Setiap hari seseorang melihat keberhasilan, kekayaan, atau pencapaian orang lain sehingga merasa hidupnya kurang sempurna. Akibatnya, perhatian lebih tertuju kepada apa yang belum dimiliki daripada apa yang telah Allah anugerahkan.
Karena itu, salah satu cara menjaga syukur adalah dengan melatih kesadaran terhadap nikmat-nikmat kecil. Bangun pagi dalam keadaan sehat, menikmati makanan sederhana, memperoleh kesempatan bekerja, berkumpul bersama keluarga, serta dapat melaksanakan salat tepat waktu merupakan karunia yang luar biasa. Jika setiap nikmat kecil disadari, hati akan lebih mudah dipenuhi rasa syukur daripada keluhan.
Pada hakikatnya, nikmat tidak pernah berkurang, tetapi kesadaran manusialah yang sering memudar. Semakin lama suatu karunia dirasakan, semakin besar kemungkinan manusia menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa. Oleh sebab itu, setiap hari hendaknya menjadi kesempatan untuk memperbarui rasa syukur sebelum nikmat itu benar-benar dicabut oleh Allah Swt. Sebab, hanya orang yang mampu melihat keajaiban dalam hal-hal yang biasa yang akan merasakan kedekatan dengan Sang Maha Pemberi Nikmat serta memperoleh ketenangan hidup yang sejati.





