Muhammadiyahtuban.or.id-Arsenal akhirnya memastikan gelar Liga Inggris di pekan ke-37 setelah menang 1-0 atas Burnley, sementara Manchester City hanya bermain imbang melawan Bournemouth.
Bagi pendukung Arsenal, ini bukan sekadar trofi.
Ini adalah akhir dari penantian panjang, sekaligus jawaban atas berbagai ejekan yang selama ini melekat pada mereka.
Arsenal pernah dijuluki “spesialis runner-up”.
Kadang juga disebut klub “puasa gelar” karena terlalu lama menunggu kembali menjadi juara Liga Inggris. Namun menariknya, di tengah ejekan itu, para suporternya tetap bertahan. Klub ini tetap membangun tim, menjaga filosofi permainan, dan percaya pada proses jangka panjang.
Dan akhirnya, kesabaran itu menemukan hasilnya.
Kalau dicari sisi filosofisnya, Arsenal punya beberapa kesamaan dengan Muhammadiyah.
Sama-sama lahir dari semangat pembaruan
Arsenal dikenal sebagai klub yang berani membangun gaya modern dalam sepak bola Inggris.
Muhammadiyah sejak awal hadir membawa semangat tajdid atau pembaruan dalam dakwah dan pendidikan Islam.
Kuat di sistem, bukan sekadar figur
Arsenal besar karena kultur klub dan pembinaan jangka panjang.
Muhammadiyah juga tumbuh karena sistem organisasi, kaderisasi, sekolah, kampus, rumah sakit, dan amal usaha yang terus berjalan lintas generasi.
Mengutamakan pendidikan karakter
Arsenal identik dengan pembinaan pemain muda dan disiplin permainan.
Muhammadiyah pun fokus membangun manusia melalui pendidikan, akhlak, dan kaderisasi.
Punya basis loyal yang militan
Fans Arsenal tetap setia meski bertahun-tahun diejek karena puasa gelar dan sering gagal di akhir musim.
Warga Muhammadiyah juga dikenal istiqamah menjaga gerakan, bahkan ketika tantangan zaman terus berubah.
Sama-sama terlihat tenang, tapi pengaruhnya besar
Arsenal mungkin tidak selalu paling gaduh, ( beda dengan King MU pemilik gelar terbanyak Premier League) tetapi tetap menjadi klub besar dunia dengan sejarah kuat dan jutaan pendukung loyal.
Muhammadiyah juga sering tampil sederhana dan tenang, namun kontribusinya nyata di bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial masyarakat Indonesia.
Dari keduanya, ada satu pelajaran penting:
sesuatu yang besar biasanya tidak dibangun dalam semalam.
Kadang harus melewati fase diremehkan, ditertawakan, bahkan disebut “hampir berhasil”.
Tetapi mereka yang tetap menjaga proses sering kali justru menjadi pemenang di akhirnya.
Arsenal mengajarkan sabar menunggu trofi,
Muhammadiyah mengajarkan sabar dalam berdakwah.
Penulis: Samson Thohari






