Dari Marbot Masjid Menjadi Direktur Klinik, Lulusan UMSurabaya Ini Hadirkan Harapan Baru di Ende

Media Share

Muhammadiyahtuban.or.id-Dari marbot masjid hingga menjadi direktur klinik, kisah dr. Muhamad Ibrahim Sengaji adalah bukti bahwa mimpi besar bisa tumbuh dari pengabdian yang tulus.

Di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, berdiri sebuah klinik yang tidak sekadar menjadi tempat berobat. Klinik itu adalah simbol harapan, buah dari perjalanan panjang seorang kader Muhammadiyah yang memilih kembali ke daerahnya untuk mengabdi.

Namanya dr. Muhamad Ibrahim Sengaji, MARS.

Saat banyak tenaga kesehatan memilih berkarier di kota-kota besar dengan fasilitas yang lebih lengkap dan peluang yang lebih menjanjikan, Ibrahim justru mengambil jalan berbeda. Ia pulang ke Flores, membawa ilmu yang diperolehnya dari perguruan tinggi Muhammadiyah, dan mewujudkan cita-cita yang telah lama ia simpan dalam hati: menghadirkan layanan kesehatan Muhammadiyah di tanah kelahirannya.

Kegelisahan yang Melahirkan Gerakan

Selama bertahun-tahun, Kabupaten Ende belum memiliki fasilitas kesehatan berbasis Islam yang dikelola Muhammadiyah. Kondisi tersebut menjadi kegelisahan tersendiri bagi Ibrahim.

Lahir di Larantuka, Flores Timur, pada 4 Maret 1990, ia memahami betul bagaimana masyarakat di pelosok Nusa Tenggara Timur menghadapi keterbatasan akses layanan kesehatan. Baginya, masyarakat tidak hanya membutuhkan pengobatan, tetapi juga pelayanan yang berlandaskan nilai kemanusiaan, profesionalisme, dan semangat dakwah.

Kegelisahan itulah yang kemudian berubah menjadi tekad.

Perjuangan Seorang Marbot Menjadi Dokter

Jalan hidup Ibrahim jauh dari kata mudah.

Saat menjalani masa koas, kondisi ekonomi keluarganya sangat terbatas. Untuk tetap bisa menyelesaikan pendidikan, ia bekerja sebagai marbot masjid. Membersihkan masjid, mengumandangkan azan, dan mengurus berbagai kebutuhan rumah ibadah menjadi bagian dari kesehariannya.

Sebagai imbalan, ia memperoleh tempat bernaung dan kebutuhan makan yang membantunya bertahan selama masa pendidikan.

“Apapun yang bisa dilakukan secara halal, akan saya lakukan,” demikian prinsip yang selalu ia pegang.

Perjuangan itu akhirnya mengantarkannya meraih gelar dokter dari Universitas Muhammadiyah Malang. Namun ia tidak berhenti di sana.

Keinginannya untuk membangun layanan kesehatan yang lebih besar membawanya melanjutkan studi Magister Administrasi Rumah Sakit (MARS) di Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSurabaya).

UMSurabaya Membentuk Cara Pandang Kepemimpinan

Di UMSurabaya, Ibrahim tidak hanya mempelajari teori manajemen rumah sakit. Ia belajar bagaimana memimpin institusi kesehatan, membangun organisasi pelayanan, dan mengembangkan Amal Usaha Muhammadiyah yang berdampak luas bagi masyarakat.

Pengalaman tersebut semakin kuat ketika ia menjalani praktik di RS Muhammadiyah Lamongan. Di sana ia menyaksikan bagaimana sebuah layanan kesehatan dapat berkembang dari skala kecil menjadi rumah sakit besar yang melayani ribuan masyarakat setiap hari.

Pengalaman itu meninggalkan jejak mendalam.

Pada tahun 2016, Ibrahim bahkan pernah mengunggah foto di depan rumah sakit Muhammadiyah sambil menyimpan sebuah cita-cita besar dalam hati:

“Suatu hari nanti akan berdiri rumah sakit Muhammadiyah di Nusa Tenggara Timur.”

Bagi sebagian orang, itu mungkin terdengar terlalu tinggi. Namun bagi Ibrahim, mimpi adalah sesuatu yang harus diperjuangkan.

Menembus Berbagai Tantangan di Pelosok NTT

Perjalanan menuju cita-cita tersebut tidak berjalan mulus.

Ibrahim harus melewati berbagai penugasan dan tantangan. Ia menjalani internship di RSUD Ngada, bertugas sebagai dokter di sejumlah puskesmas terpencil, hingga mengikuti program Nusantara Sehat Kementerian Kesehatan di Timor Tengah Utara.

Berbagai pengalaman itu membuatnya semakin memahami kebutuhan riil masyarakat NTT.

Ia melihat langsung bagaimana keterbatasan fasilitas kesehatan masih menjadi persoalan di banyak daerah. Namun alih-alih menyerah, pengalaman tersebut justru memperkuat tekadnya untuk menghadirkan solusi.

Mimpi yang Akhirnya Menjadi Kenyataan

Hari ini, mimpi yang dulu hanya tersimpan dalam hati itu mulai terwujud.

dr. Muhamad Ibrahim Sengaji dipercaya menjadi Direktur Klinik Utama Rawat Inap Muhammadiyah Ende, klinik Muhammadiyah pertama di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur.

Kehadiran klinik tersebut menjadi tonggak penting bagi dakwah dan pelayanan kesehatan Muhammadiyah di wilayah Flores.

Tidak hanya memimpin klinik, Ibrahim juga mengemban amanah sebagai Ketua Majelis Pembina Kesehatan Umum (MPKU) PDM Sikka dan Ketua Lazismu PDM Ende.

Berbagai amanah itu menunjukkan bahwa pengabdiannya tidak berhenti pada profesi dokter semata, tetapi juga menjadi bagian dari gerakan dakwah dan pemberdayaan masyarakat.

Dakwah yang Hadir Melalui Pelayanan

Kisah Ibrahim adalah gambaran nyata dari dakwah bil hal—berdakwah melalui tindakan nyata.

Ia membuktikan bahwa pendidikan Muhammadiyah bukan hanya melahirkan lulusan yang mencari kesuksesan pribadi, tetapi juga kader yang mampu kembali ke masyarakat dan menghadirkan solusi bagi persoalan umat.

Dari seorang marbot masjid hingga menjadi direktur klinik, perjalanan Ibrahim mengajarkan satu hal penting: mimpi besar yang disertai keikhlasan dan kerja keras dapat menghadirkan perubahan yang nyata.

Dan di ujung timur Indonesia, perubahan itu kini bernama Klinik Utama Rawat Inap Muhammadiyah Ende.


Profil Singkat

Nama: dr. Muhamad Ibrahim Sengaji, MARS
Tempat/Tanggal Lahir: Larantuka, Flores Timur, 4 Maret 1990
Pendidikan: Dokter Universitas Muhammadiyah Malang; Magister Administrasi Rumah Sakit Universitas Muhammadiyah Surabaya
Jabatan: Direktur Klinik Utama Rawat Inap Muhammadiyah Ende; Ketua MPKU PDM Sikka; Ketua Lazismu PDM Ende

Moto Hidup:
“Menjadi Cahaya di Timur Indonesia, Mengabdi untuk Kemanusiaan, Berdakwah Melalui Pelayanan.

Penulis: Samson Thohari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *