Melihat Masa Depan Muhammadiyah dalam Sosok Ustaz Nur Fajri

Media Share

muhammadiyahtuban.or.id-Jumat–Ahad, 15–17 Mei 2026 menjadi hari yang sangat berkesan bagi Muhammadiyah Tuban. Untuk pertama kalinya, Ustaz Nur Fajri Romadhon hadir dan membersamai warga persyarikatan di bumi wali ini dalam rangkaian Safari Dakwah Muhammadiyah Tuban.

Tiga hari yang terasa singkat, tetapi meninggalkan banyak pelajaran, kehangatan, dan kekaguman.

Perjalanan dimulai pada Jumat sore saat kami menjemput beliau di Stasiun Babat. Kesan pertama langsung terasa sejak awal pertemuan. Beliau datang dengan sikap yang sangat sederhana dan rendah hati. Baru beberapa menit bertemu, beliau langsung mengajak berkenalan satu per satu dengan rombongan penjemput.

Yang membuat kami kagum, tidak butuh waktu lama hingga beliau hafal nama-nama kami di mobil. Hal kecil, tetapi menunjukkan perhatian dan penghargaan beliau kepada orang lain.

Dalam perjalanan menuju Tuban setelah makan malam, kami mulai melihat bagaimana padatnya aktivitas seorang dai sekaligus intelektual muda Muhammadiyah. Di tengah perjalanan, beliau masih mengisi Zoom “Talaqqi HPT Muhammadiyah Pendekatan Fikih Komparatif”. Dari situ terasa bahwa hidup beliau benar-benar diisi dengan ilmu, dakwah, dan pengabdian.

Namun di balik keluasan ilmunya, beliau justru tampil sangat sederhana. Tidak ada kesan berjarak. Padahal beliau pernah belajar dan melanglang buana ke berbagai negara, tetapi tetap terlihat membumi dan hangat kepada siapa saja.

Beliau bahkan tampak menikmati hal-hal kecil. Sesekali memotret suasana sederhana di perjalanan, sudut-sudut kecil yang mungkin bagi orang lain biasa saja. Dari situ terasa sekali kesahajaan beliau. Tidak terlihat seperti sosok yang ingin diperlakukan istimewa.

Keesokan paginya, beliau mengisi kajian di Masjid Al Mubarak. Kajian berlangsung sangat hidup. Jamaah terus mengangkat tangan ingin bertanya. Pembahasannya ilmiah, tetapi disampaikan dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami. Banyak persoalan agama dijelaskan dengan tenang, rasional, dan menenangkan.

Setelah kajian dan sarapan pagi, masih di kompleks Masjid Al Mubarak, ada momen sederhana yang justru sangat membekas. Beliau menghampiri anak-anak yang sedang latihan memanah, mengajak salaman, tersenyum, dan bercengkerama sebentar dengan mereka. Dari situ kami melihat bahwa keramahan beliau bukan dibuat-buat, tetapi memang menjadi bagian dari akhlaknya.

Usai istirahat sebentar, beliau melanjutkan kajian khusus bersama karyawan PT Fajar Mandiri Bersinar. Suasana forum sangat cair dan penuh kekeluargaan. Diskusi yang awalnya dirancang singkat akhirnya berlangsung panjang karena antusias peserta begitu tinggi. Di forum ini mulai terlihat sisi humor beliau. Sesekali candaan muncul, membuat suasana terasa hangat tanpa mengurangi kedalaman isi kajian.

Perjalanan kemudian berlanjut ke Kantor PDM Tuban. Di sana berlangsung obrolan ringan tentang Muhammadiyah, media sosial dakwah, hingga nama Tuban yang ternyata cukup dikenal di tempat asal beliau. Bahkan beliau sempat menyebut Suli 5 dan media sosial Muhammadiyah Tuban yang aktif sebagai salah satu hal yang membuat beliau penasaran dengan Tuban.

Siangnya, talkshow berlangsung meriah. Jamaah membludak dan hampir semua ingin bertanya. Namun waktu menjadi tantangan karena antusiasme begitu besar. Ada pula momen lucu ketika pertanyaan dari NA dan ‘Aisyiyah saling bersahutan dengan nuansa bercanda, apalagi saat itu mereka sedang merayakan milad. Suasana menjadi hidup, hangat, dan penuh tawa.

Malam harinya safari dakwah berlanjut ke MBS Bancar. Kajian di sana terasa sangat akrab. Banyak pembahasan menarik tentang fatwa-fatwa yang ternyata belum banyak diketahui warga persyarikatan. Jamaah pun sangat antusias berdialog langsung dengan beliau. Bahkan ada tamu dari Pucang yang begitu bersemangat hingga ingin mengundang beliau hadir di sana.

Seperti agenda-agenda sebelumnya, selesai kajian tidak langsung pulang. Beliau tetap melayani jamaah yang ingin berdiskusi, berfoto, hingga makan bersama. Pulangnya pun kembali larut malam karena beliau selalu menyempatkan diri menyapa banyak orang.

Dalam perjalanan pulang dari MBS Bancar, ada momen kecil yang membuat kami semakin tersentuh. Beliau justru membelikan minuman untuk kami. Hal sederhana, tetapi memperlihatkan perhatian dan kepedulian beliau kepada orang-orang di sekitarnya. Sikap seperti itu mungkin terlihat biasa, tetapi terasa sangat hangat ketika datang dari sosok yang begitu berilmu.

Hari Ahad dimulai dengan bedah buku “Kuliah Aqidah Islam” karya Prof. Yunahar Ilyas di Masjid Darussalam. Kajian berlangsung menarik dan interaktif. Jamaah yang bertanya mendapatkan hadiah buku yang sama. Bahkan ada jamaah dari luar kota yang sengaja datang hanya untuk bertemu langsung dengan Ustaz Nur Fajri.

Usai sarapan dan bincang santai bersama jamaah, agenda dilanjutkan ke acara RUPS dengan tema “Jihad Ekonomi Muhammadiyah”. Dalam kajian tersebut beliau menegaskan pentingnya penguatan ekonomi umat dan persyarikatan. Menurut beliau, sebagian besar ibadah dalam Islam memiliki kaitan erat dengan kekuatan ekonomi. Penguatan ekonomi bukan hanya soal kesejahteraan, tetapi juga menjaga izzah dan wibawa umat.

Menariknya, agenda dakwah belum selesai. Beliau masih melanjutkan perjalanan ke Lamongan untuk mengisi kajian di Gedung Dakwah Muhammadiyah Brondong, meski agenda itu tidak tercantum di flyer resmi. Tema yang dibahas juga sangat menarik: “Memahami Muhammadiyah dan Salafi dalam Khazanah Pemikiran Islam”. Lagi-lagi forum berlangsung hidup dan penuh dialog.

Dan seperti biasanya, setiap selesai kajian selalu ada jamaah yang ingin berfoto, berdiskusi, atau sekadar menyampaikan rasa terima kasih secara langsung.

Sebelum kembali ke Jakarta, beliau masih menyempatkan satu kajian terakhir di Masjid Al Ihsan Lerankulon dengan tema Fikih Kurban Kontemporer. Baru setelah itu beliau menuju Stasiun Babat untuk perjalanan pulang.

Saat momen perpisahan di stasiun, ada rasa haru yang sulit dijelaskan. Tiga hari membersamai beliau terasa begitu cepat.

Melihat beliau seperti melihat Prof. Haedar Nashir di masa muda. Sosok yang sederhana, tenang, dan membumi. Bahkan beliau lebih memilih naik kereta ekonomi dan membawa sendiri kopernya tanpa ingin merepotkan orang lain.

Padahal beliau adalah sosok yang telah belajar di berbagai tempat dan bertemu banyak kalangan. Namun semua itu tidak membuat beliau berjarak. Justru beliau masih berkenan hadir dan membersamai warga Muhammadiyah di Tuban, sebuah kabupaten kecil yang mungkin jarang dilirik banyak tokoh nasional.

Bagi kami, itu menjadi pelajaran besar tentang kesederhanaan.

Jika Muhammadiyah diibaratkan sebuah negara, maka Ustaz Nur Fajri layak disebut sebagai “muftinya”. Keluasan ilmunya terasa dalam banyak bidang. Beliau mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan sulit dengan tenang, ilmiah, dan menenangkan. Penguasaan berbagai disiplin ilmu, kemampuan bahasa asing, serta keluasan wawasan membuat banyak orang kagum.

Namun di atas semua itu, yang paling membekas justru akhlaknya:
murah senyum, halus tutur katanya, rendah hati, suka menyalami lebih dulu, mudah akrab dengan siapa saja, dan mudah terharu.

Ilmunya membuat orang kagum.
Tetapi akhlaknya membuat orang merasa dekat.

Dan mungkin itu yang membuat banyak orang merasa:
beliau bukan sekadar penceramah,
tetapi sosok yang layak menjadi salah satu harapan Muhammadiyah di masa depan.

Penulis: Samson Thohari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *