Muhammadiyahtuban.or.id — Pengajian Keluarga Ahad Pagi di Masjid Darussalam, Tuban, berlangsung khidmat pada Ahad (4/10/2026). Dalam tausiyahnya, Ustaz Fathur Rahman mengajak jamaah memperkuat iman, menjaga kebersihan hati, serta menjadikan dzikir dan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
Mengawali tausiyah, Ustaz Fathur Rahman mengingatkan pentingnya mengatur waktu, terutama dalam mempersiapkan diri sebelum memasuki waktu salat dan memperbanyak dzikir.
Menurutnya, kebiasaan berdzikir sebelum azan dapat menjadi bentuk kesungguhan seseorang dalam mengatur waktu sekaligus menjaga hubungan dengan Allah Swt.
Ia juga mengingatkan jamaah untuk senantiasa bersyukur ketika memperoleh nikmat dan kebahagiaan. Sementara ketika menghadapi ujian, seorang Muslim hendaknya mengedepankan kesabaran.
Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang tidak jarang menghadapi kondisi bingung, gelisah, atau tidak mengetahui langkah yang harus diambil. Dalam keadaan demikian, seorang Muslim hendaknya kembali kepada petunjuk Allah Swt.
Iman Menjadi Petunjuk bagi Hati
Mengutip kandungan Surat At-Taghabun ayat 11, Ustaz Fathur Rahman menjelaskan bahwa keimanan dapat menjadi petunjuk bagi hati seseorang.
“Barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya,” demikian inti pesan ayat yang disampaikan dalam pengajian tersebut.
Ia menjelaskan bahwa iman tidak hanya tercermin melalui ucapan, tetapi juga melalui sikap dan kebiasaan sehari-hari. Salah satunya adalah kepedulian terhadap waktu salat.
Orang yang memiliki keimanan, kata dia, akan memiliki perhatian terhadap datangnya waktu Zuhur, Asar, Magrib, Isya, hingga Subuh. Kesibukan duniawi tidak semestinya membuat seseorang lalai terhadap kewajibannya kepada Allah.
Ustaz Fathur Rahman juga mengajak jamaah memanfaatkan waktu antara salat Magrib dan Isya dengan kegiatan yang bermanfaat. Waktu tersebut dapat diisi dengan membaca Al-Qur’an, berdiskusi mengenai ilmu agama, maupun saling mengingatkan dalam kebaikan.
Menurutnya, ketika melakukan kesalahan, seseorang hendaknya segera memohon ampun kepada Allah. Begitu pula ketika sesuatu tidak berjalan sesuai harapan, seorang mukmin perlu meyakini bahwa Allah lebih mengetahui apa yang terbaik bagi dirinya.
Sikap tersebut diharapkan dapat menghadirkan ketenangan, kepercayaan, dan kepasrahan kepada Allah Swt.
Menjaga Hati untuk Menjaga Kehidupan
Pada bagian lain tausiyah, Ustaz Fathur Rahman menekankan pentingnya menjaga kebersihan hati.
Ia mengingatkan jamaah pada sabda Rasulullah saw. mengenai kedudukan hati dalam diri manusia. Apabila hati baik, maka baik pula seluruh jasad. Sebaliknya, apabila hati rusak, dampaknya dapat memengaruhi seluruh diri seseorang.
Karena itu, jamaah diajak menjauhi berbagai penyakit hati, seperti iri, dengki, dendam, prasangka buruk, serta kekhawatiran yang berlebihan.
Menurutnya, kondisi batin seseorang dapat memengaruhi cara berpikir dan perilakunya. Kegelisahan yang terus dipelihara dapat membuat seseorang merasa tidak nyaman dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Sebagai upaya membersihkan hati, jamaah diajak memperbanyak dzikir dan mendekatkan diri kepada Allah Swt. Dengan hati yang lebih tenang, seseorang diharapkan mampu berpikir lebih jernih dan menghadapi persoalan dengan lebih bijaksana.
Menghayati Surat Al-Falaq
Ustaz Fathur Rahman juga mengajak jamaah memahami kandungan Surat Al-Falaq. Surat tersebut mengajarkan umat Islam untuk memohon perlindungan kepada Allah dari berbagai bentuk kejahatan.
Ia menjelaskan makna ayat-ayat yang mengajarkan perlindungan dari kejahatan kegelapan, berbagai bentuk kejahatan, serta kedengkian.
Khusus mengenai dengki, ia menekankan bahwa seseorang tidak hanya perlu memohon perlindungan dari kedengkian orang lain, tetapi juga harus berusaha membersihkan dirinya sendiri dari sifat tersebut.
“Orang berbuat buruk, kita balas dengan kebaikan. Orang ingin mencelakai, kita maafkan,” pesan yang ditekankan dalam tausiyah tersebut.
Menurutnya, memaafkan bukan hanya bentuk kebaikan kepada orang lain, tetapi juga menjadi cara menjaga hati agar tidak dipenuhi kebencian dan dendam.
Tidak Sekadar Membaca, tetapi Memahami
Ustaz Fathur Rahman juga mengingatkan jamaah agar tidak berhenti pada aktivitas membaca ayat-ayat Al-Qur’an secara lisan. Setiap bacaan hendaknya disertai pemahaman dan penghayatan terhadap maknanya.
Saat membaca ta’awudz, misalnya, seseorang hendaknya menyadari bahwa dirinya memohon perlindungan hanya kepada Allah dari godaan setan. Demikian pula ketika membaca Surat Al-Falaq, setiap ayat dihayati sebagai bentuk permohonan perlindungan kepada Allah dari berbagai keburukan.
Dengan pemahaman tersebut, membaca Al-Qur’an diharapkan tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi juga memberikan pengaruh terhadap sikap dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
Di akhir tausiyah, Ustaz Fathur Rahman mengajak jamaah untuk terus memperkuat iman, menjaga hati dari penyakit batin, membiasakan diri memaafkan, serta memperbanyak dzikir dan membaca Al-Qur’an.
Pengajian kemudian ditutup dengan doa agar Allah Swt. meneguhkan keimanan, melapangkan hati, memberikan perlindungan dari berbagai keburukan, serta senantiasa memberikan petunjuk dalam setiap langkah kehidupan.
Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin.
Penulis: Firnas Muttaqin.






