Muhammadiyahtuban.or.id-Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Tuban menggelar Talk Show Inspiratif sebagai bagian dari rangkaian Pelantikan Akbar Pimpinan Komisariat IMM Ibnu Sina dan STIE Muhammadiyah Tuban periode 2026/2027, Sabtu (26/9/2026).
Mengangkat tema “Penguatan Nalar Kritis dalam Menganalisis Dinamika Sosial Kontemporer: Dari Tradisi Intelektual Menuju Gerakan Transformatif,” kegiatan tersebut menjadi ruang bagi kader IMM untuk memperkuat tradisi intelektual sekaligus mendorong lahirnya gerakan yang responsif terhadap berbagai persoalan sosial.
Hadir sebagai pemateri, Akhlis Nastainul Firdaus, Kabid HPKP IMM Jawa Timur, dan Kakanda Nafi’ dari FOKAL IMM Tuban. Keduanya memberikan perspektif mengenai pentingnya membangun budaya intelektual agar kader IMM mampu membaca perubahan sosial secara kritis dan menerjemahkannya dalam gerakan.
Akhlis Nastainul Firdaus menekankan bahwa penguatan nalar kritis merupakan bagian penting dalam proses perkaderan IMM. Menurutnya, IMM tidak cukup hanya menjadi ruang berkumpul, tetapi harus mampu memadukan moral, intelektualitas, dan gerakan.
“Di tengah derasnya arus informasi, kader IMM harus mampu membedakan mana fakta, opini, dan disinformasi. Jangan sampai kita hanya menjadi konsumen informasi yang pasif,” ujar Akhlis.
Ia mendorong kader IMM untuk membangun tradisi membaca, berdiskusi, menulis, dan melakukan refleksi sebagai bagian dari kehidupan intelektual. Pengetahuan, lanjutnya, tidak boleh berhenti sebagai wacana, tetapi harus diterjemahkan menjadi gagasan dan gerakan yang memberikan dampak nyata.
“Gagasan harus mampu diterjemahkan menjadi gerakan. IMM harus hadir untuk membaca persoalan di masyarakat, membangun kolaborasi, kemudian menghadirkan solusi yang relevan dan bermanfaat,” lanjutnya.
Sementara itu, Kakanda Nafi’ menyoroti pentingnya menjaga tradisi membaca dan diskusi buku dalam kehidupan kader IMM. Menurutnya, intelektualitas merupakan salah satu fondasi penting bagi seorang aktivis agar tetap memiliki arah dalam menjalankan gerakan.
“Bagaimanapun kader IMM tidak boleh lepas dari diskusi buku. Karena tanpa diskusi buku, apa yang kita bicarakan bisa menjadi nol besar. Seorang aktivis tidak boleh apatis terhadap keadaan di sekitarnya,” ungkap Nafi’.
Ia menambahkan, budaya membaca dan berdiskusi harus menjadi kebiasaan yang terus dirawat. Aktivisme tanpa pengetahuan berpotensi kehilangan arah, sementara pengetahuan tanpa keberanian untuk bergerak tidak akan melahirkan perubahan.
“Jadilah kader yang terus membaca, terus berdiskusi, dan terus berpikir. Tetapi jangan berhenti di ruang diskusi. Pengetahuan harus keluar dari kepala, menjadi sikap, kemudian menjadi tindakan yang memberi manfaat bagi masyarakat,” pesannya.

Melalui talk show tersebut, kader IMM didorong untuk membangun keseimbangan antara intelektualitas dan praksis gerakan. Kader tidak hanya dituntut memahami berbagai persoalan, tetapi juga memiliki keberanian untuk mengambil peran dalam mencari dan menghadirkan solusi.
Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya IMM Tuban dalam merawat tradisi intelektual di tengah perubahan sosial dan perkembangan teknologi digital. Dengan penguatan nalar kritis, kader IMM diharapkan mampu membaca zaman secara lebih tajam, menyusun gagasan berbasis pengetahuan, membangun kolaborasi, dan menerjemahkannya dalam aksi nyata di tengah masyarakat.
Kontributor: Prastyo






