Tabayyun Jadi Benteng Generasi Muda Hadapi Arus Informasi Digital

Media Share

Muhammadiyahtuban.or.id-Di tengah derasnya arus informasi yang beredar melalui media sosial, sikap tabayyun atau melakukan klarifikasi dan pengecekan kebenaran informasi dinilai menjadi hal yang sangat penting. Hal tersebut disampaikan oleh Anggota Bidang Pustaka, Informasi, dan Teknologi Pimpinan Ranting Nasyiatul Aisyiyah (PRNA) Panyuran, Tuban, Lisana Sidqi Aliyyan, saat diwawancarai pada Rabu (24/6/2026).

Perempuan yang akrab disapa Liyyan itu menjelaskan bahwa tabayyun merupakan upaya untuk memastikan kebenaran suatu informasi sebelum mempercayai maupun menyebarkannya kepada orang lain.

Tabayyun itu artinya klarifikasi atau mengecek kebenaran berita sebelum disebar. Jika mendapat informasi dari media sosial, terutama WhatsApp, jangan langsung percaya begitu saja. Kita harus mencari tahu terlebih dahulu kebenarannya agar tidak terjebak dalam informasi hoaks,” ujarnya.

Menurut Liyyan, kebiasaan “klik dan sebar” tanpa melakukan verifikasi masih banyak terjadi di kalangan masyarakat. Ia menilai masih banyak orang yang kesulitan membedakan informasi yang benar dan hoaks, terutama terkait berita viral, penawaran jual beli, maupun informasi lowongan pekerjaan yang tidak masuk akal.

“Banyak orang langsung percaya pada informasi yang beredar tanpa mengecek kebenarannya terlebih dahulu. Padahal, tabayyun menjadi langkah wajib agar tidak mudah tertipu atau ikut menyebarkan informasi yang salah,” katanya.

Lebih lanjut, Liyyan mengungkapkan bahwa kurangnya sikap tabayyun dapat menimbulkan berbagai dampak negatif. Di antaranya adalah munculnya fitnah, ujaran kebencian, kepanikan massal, rusaknya reputasi seseorang, hingga perpecahan sosial di tengah masyarakat.

“Dampak paling nyata dari kurangnya tabayyun adalah terjadinya fitnah dan penyebaran ujaran kebencian, baik di ruang digital maupun lingkungan sekitar. Hal ini bisa memicu konflik dan merusak hubungan sosial,” jelasnya.

Untuk membiasakan budaya tabayyun, Liyyan mengajak generasi muda agar selalu melakukan pengecekan informasi dari berbagai sumber sebelum membagikannya. Menurutnya, informasi yang diterima dari satu platform perlu dibandingkan dengan sumber lain yang lebih kredibel.

“Generasi muda harus pintar memilah dan memilih informasi. Cek kebenaran berita melalui berbagai platform seperti Instagram, WhatsApp, TikTok, atau sumber resmi lainnya. Bisa juga bertanya kepada orang yang lebih memahami agar tidak terjadi fitnah maupun kesalahpahaman,” tuturnya.

Dalam menanamkan budaya tabayyun di era digital, Liyyan menekankan pentingnya sinergi antara keluarga, sekolah, dan tokoh agama. Ketiga unsur tersebut memiliki peran strategis dalam membentuk karakter generasi muda agar lebih bijak dalam menggunakan media sosial.

Menurutnya, keluarga berperan sebagai pondasi utama melalui keteladanan orang tua dalam menyikapi informasi yang beredar. Sementara itu, sekolah perlu mengembangkan literasi digital yang mengajarkan siswa untuk berpikir kritis, membedakan fakta dan opini, serta memverifikasi sumber informasi.

Adapun tokoh agama memiliki peran penting dalam mengaitkan budaya tabayyun dengan nilai-nilai keislaman. Liyyan menegaskan bahwa tabayyun bukan sekadar etika bermedia sosial, tetapi juga merupakan perintah Allah SWT sebagaimana tercantum dalam QS Al-Hujurat ayat 6.

“Kalau ketiga pilar ini berjalan bersama, budaya tabayyun akan lebih mudah tertanam. Anak-anak tidak hanya takut melanggar aturan hukum, tetapi juga memahami tanggung jawab moral dan agama dalam menyebarkan informasi,” pungkasnya. (*)

Penulis : Fathan Faris Saputro

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *