Muhammadiyahtuban.or.id-Tahun 2010, Muhammadiyah mengambil keputusan yang tidak populer: rokok dihukumi haram.
Bagi sebagian orang, ini terasa berlebihan.
“Kan cuma rokok…”
Tapi justru di situlah masalahnya.
Selama ini kita menganggap kecil sesuatu yang dampaknya sangat besar.
Muhammadiyah tidak sedang membuat sensasi.
Mereka hanya membaca satu hal: fakta.
Tsunami Fakta Itu Bernama Bahaya Rokok
Mari kita jujur.
Dalam satu batang rokok, terdapat lebih dari 7.000 zat kimia, dan puluhan di antaranya adalah racun mematikan. Banyak yang bersifat karsinogen—pemicu kanker.
Dampaknya bukan teori, tapi nyata:
- Kanker paru-paru
- Serangan jantung
- Stroke
- Penyakit paru kronis
- Gangguan kehamilan dan janin
Sumber kesehatan seperti Alodokter juga menjelaskan bahwa merokok meningkatkan risiko kematian secara signifikan, bahkan pada usia produktif.
Dan yang sering diabaikan:
asap rokok juga membunuh orang lain.
Anak kecil, istri, teman—mereka ikut menghirup racun yang tidak mereka pilih.
Dari Makruh ke Haram: Ini Bukan Sekadar Fatwa
Dulu, rokok sering dianggap makruh.
Kenapa? Karena dampaknya belum sejelas sekarang.
Hari ini, situasinya berbeda.
Ilmu pengetahuan sudah terang.
Data sudah menumpuk.
Korban sudah tak terhitung.
Dalam Islam, ada prinsip sederhana:
segala yang membahayakan jiwa harus dihindari.
Jika:
merusak tubuh ✔
membunuh perlahan ✔
mencelakakan orang lain ✔
maka hukumnya tidak lagi abu-abu.
Di titik ini, Muhammadiyah hanya menyimpulkan sesuatu yang sebenarnya logis:
rokok haram.
Rokok: Antara Normalisasi dan Ketergantungan
Masalahnya, rokok sudah terlalu “diterima”.
Ia hadir di:
- tongkrongan
- acara santai
- bahkan dianggap simbol kedewasaan
- Padahal, di balik itu semua ada satu hal: kecanduan nikotin.
Banyak orang berkata, “Saya bisa berhenti kapan saja.”
Faktanya? Tidak mudah.
Karena rokok bukan sekadar kebiasaan.
Ia adalah jerat yang pelan tapi pasti.
Muhammadiyah Tidak Berlebihan, Kita yang Terlambat
Fatwa 2010 itu bukan langkah ekstrem.
Justru bisa dibilang terlambat, karena fakta sudah lama ada.
Muhammadiyah hanya memilih untuk:
- berpihak pada kesehatan
- menjaga jiwa manusia
dan menghentikan normalisasi sesuatu yang merusak
Setelah Semua Fakta Ini…
Pertanyaannya bukan lagi:
“Apakah rokok itu berbahaya?”
Tapi:
mengapa kita masih menganggapnya biasa?
Tsunami fakta sudah datang.
Gelombangnya jelas.
Muhammadiyah sudah mengambil sikap.
Sekarang, giliran kita: tetap bertahan… atau mulai berubah.
Penulis: Samson Thohari






