PDMTUBAN.COM-Jamaah Tani Muhammadiyah (JATAM) Cendoro, yang terdiri dari kelompok Surya Tani dan Mugio Berkah , menggelar kegiatan Ngaji Tani bertema “Daulat untuk Tani Indonesia Berkemakmuran” pada Rabu (24/9/2025). Acara yang berlangsung di Masjid Nurah binti Saad, Desa Cendoro, Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban ini juga disertai dengan pembagian alat pengukur pH tanah kepada seluruh jamaah tani yang hadir.
Kegiatan ini terselenggara berkat kolaborasi antara Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Tuban, JATAM Cendoro, dan Lazismu Tuban.
Muhammadiyah dan Peran di Sektor Pertanian
Dalam sambutannya, Ketua MPM PDM Tuban, Muqim Amrullah, menegaskan bahwa Muhammadiyah bukan hanya bergerak di bidang pendidikan dan kesehatan, tetapi juga hadir memberi kontribusi dalam sektor pertanian.
“Muhammadiyah berbicara Islam melalui pertanian, dan berpartisipasi mendukung pemerintah untuk mewujudkan swasembada pangan,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Ketua PCM Palang, Abdullah Asad, yang menekankan pentingnya penguatan masyarakat melalui pertanian. Ia juga memberikan apresiasi atas kiprah JATAM Cendoro.
“PRM Cendoro saat ini menjadi ranting unggulan dan bahkan masuk nominasi Cabang Ranting Masjid (CRM) Award. Panel surya yang digunakan untuk mengairi lahan pertanian menjadi bukti nyata bahwa Cendoro layak dianggap sebagai salah satu ranting Muhammadiyah terbaik di Indonesia,” ungkapnya.

Ketua JATAM Tuban, Muhammad Kasman, dalam sambutannya menjelaskan bahwa Ngaji Tani adalah wadah belajar ilmu pertanian bagi petani Muhammadiyah.
“Kalau ngaji fikih ada Bulughul Maram, ngaji tafsir ada Jalalain. Maka sekarang kita punya Ngaji Tani , agar bertani itu ada ilmunya,” jelas Kasman.
Dalam sesi praktik, Kasman mendemonstrasikan cara menggunakan alat pengukur pH tanah. Ia menjelaskan bahwa pH ideal untuk tanah pertanian berada di kisaran 5,5–6,5. Jika tanah terlalu asam, bisa dinetralisir menggunakan dolomit (CaMg(CO₃)₂), sedangkan tanah yang terlalu basa dapat diperbaiki dengan belerang atau ZA.
Sebagai alternatif, Kasman juga memberikan tips sederhana dengan menggunakan kunyit. Caranya, tanah dari beberapa titik lahan dicampur lalu didiamkan 30 menit bersama potongan kunyit. Perubahan warna kunyit menjadi indikator kondisi tanah: memudar berarti asam, tetap berarti netral, dan kebiruan berarti basa.
Selain itu, Kasman memperkenalkan varietas baru padi Mentari yang dirilis pada Jambore Nasional di Kebumen, Jawa Tengah. Padi ini diklaim kaya protein dan sejalan dengan visi Muhammadiyah yang sejak awal menerapkan standar tinggi dalam berbagai bidang.
“Kalau pemerintah menekankan swasembada pangan pada jumlah yang melimpah, Muhammadiyah menekankan kualitas gizi. Maka padi Mentari hadir sebagai jawaban atas kebutuhan pangan yang lebih sehat,” ungkap Kasman.
Kegiatan Ngaji Tani ini tidak hanya menjadi ajang pembekalan ilmu pertanian, tetapi juga memperkuat silaturahmi antarpetani Muhammadiyah. Suasana keakraban semakin terasa ketika para jamaah menikmati suguhan polo pendem dengan minuman hangat wedang pokak dan kopi yang disajikan tuan rumah JATAM Cendoro.
Penulis: Samson Thohari






