PDMTUBAN.COM-Kesombongan adalah sifat tercela dalam keadaan apa pun. Namun, akan terasa jauh lebih parah jika sifat itu muncul pada orang miskin. Orang yang hidup serba kekurangan seharusnya lebih mudah untuk rendah hati, karena dia tahu betapa beratnya menjalani hidup. Sayangnya, ada juga orang miskin yang justru merasa lebih mulia daripada orang lain, meremehkan, bahkan enggan menerima nasihat.
Nasihat Ulama
Imam Nawawi dalam Nashā’iḥ al-‘Ibād menegaskan, kesombongan pada orang miskin lebih buruk dibandingkan kesombongan orang kaya. Karena, selain tidak memiliki apa-apa, ia masih menambah keburukan dengan sikap angkuh.
Imam Nawawi memberikan perumpamaan bijak:
- Dosa pemuda itu buruk, tapi lebih buruk jika dilakukan orang tua.
- Malas beribadah itu tercela pada orang awam, lebih tercela lagi jika terjadi pada ulama.
- Sombong pada orang kaya sudah buruk, tetapi lebih buruk bila dilakukan oleh orang miskin.
Allah melarang kesombongan secara tegas:
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.”
(QS Luqman: 18)
Nabi ﷺ juga memberi peringatan keras:
- Tiga golongan yang mendapat azab pedih: “Ada tiga orang yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, tidak dipandang, tidak disucikan, dan bagi mereka azab yang pedih: orang tua yang berzina, penguasa yang pendusta, dan orang miskin yang sombong.”
(HR. Muslim) - Hadits tentang penduduk neraka:
“Maukah kamu aku beritahu tentang penduduk neraka? Mereka semua adalah orang-orang keras lagi kasar, tamak lagi rakus, dan takabbur (sombong).”
(HR. Bukhari dan Muslim )
- Definisi sombong menurut Nabi ﷺ:
“Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.”
(HR. Muslim)
Kesombongan bukanlah tanda kemuliaan, melainkan kebodohan hati. Orang miskin yang masih menyombongkan diri berarti kehilangan dua kali: miskin di dunia, miskin pula di akhirat. Sebaliknya, kemuliaan sejati terletak pada kerendahan hati, syukur, dan kesediaan menerima kebenaran.
Penulis: Samson Thohari






